Raja al-Muzhaffar, Pencetus Ide Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

 
Raja al-Muzhaffar, Pencetus Ide Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
Sumber Gambar: Aqidatuna

Laduni.ID, Jakarta – Raja al-Muzhaffar merupakan seorang raja alim dan adil yang berkuasa di Irbil (sekarang Baghdad) Irak, beliau disebut-sebut sebagai pemilik ide perayaan Maulid Nabi pertama pada 12 Rabi’ul Awal.

Dengan nama Abu Sa’id al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin, beliau lahir pada 27 Muharram 549 H dan wafat pada malam Jumat, 14 Ramadhan 630 H.

Al-Muzhaffar merupakan anak dari raja sebelumnya, dan juga merupakan adik ipar dari Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Istrinya, Rabi’ah Khaatun merupakan adik kandung Sultan, sehingga itu juga yang membuat Raja al-Muzhaffar mengakui kekuasaan Shalahuddin tanpa peperangan. Bahkan beberapa kali Raja al-Muzhaffar ikut berperang membantu pasukan Shalahuddin melawan musuh-musuh.

Hebatnya, saat menikah beliau hanya memakai pakaian seharga lima dirham, sampai-sampai Shalahuddin memarahi perangainya itu. Al-Muzhaffar lalu berkata, “Pakaian dengan harga lima dirham dan aku bersedekah dengan sisa uangku lebih baik bagiku daripada mengenakan pakaian mewah dan membiarkan kaum miskin.”

Beliau juga seorang penemu dari strategi perang yang membuat musuh mabuk, al-Muzhaffar membakar tumbuhan candu yang tumbuh di sekitar medan peperangan. Lalu dengan memanfaatkan angin yang berhembus ke arah musuh, pasukan Shalahuddin dapat mengalahkan pasukan musuh. Strategi perang ini pernah digunakan dalam peperangan al-Hathin.

Sebagai raja yang alim, adil, dan memiliki kecintaan yang luar biasa besar pada Baginda Nabi SAW, Raja al-Muzhaffar tentu meninggalkan banyak hal baik. Beliau selalu mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun, dengan perayaan yang meriah beliau mengundang seluruh rakyat dari berbagai kalangan dan para ulama, serta mengundang pemimpin negara tetangga untuk ikut hadir dalam perayaan maulid yang beliau adakan.

Raja al-Muzhaffar menyediakan banyak makanan nikmat dan lezat, banyak hewan disembelih dan dimasak, sebanyak 5 ribu kambing dipanggang, 10 ribu ayam dan 100 kuda disembelih, 100 ribu piring keju dan 30 ribu piring manisan disediakan untuk perayaan maulid tersebut.

Perayaan yang berlangsung beberapa hari tersebut dimulai dari waktu Dzuhur hingga fajr, menghabiskan sekitar 300 ribu dinar untuk perayaan maulid, 100 ribu dinar untuk rumah persinggahan, 30 ribu dinar untuk al-Haramain dan pengairan daerah al-Hijaz, serta hadiah 100 ribu dinar untuk Syekh Abu al-Khaththab ibn Dihyah yang menyusun kitab Maulid berjudul "التنوير في مولد البشير النذير".

Selain perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar secara megah dan mewah, Raja al-Muzhaffar juga bersedekah secara besar-besaran dengan membangun sekolah mahzab asy-Syafi’iyyah dan mahzab Hanafiyyah, membangun Universitas al-Muzaffar (al Jaami' Muzhaffary) di kaki Gunung Qaasiun, membangun banyak gudang roti untuk dibagikan setiap harinya, memberi pakaian kepada orang yang membutuhkan, membagikan dua dinar kepada masing-masing rakyat, membangun empat panti jompo dan panti difabel, membangun rumah untuk perempuan dan anak yatim, membangun dua ribath (tempat dzikir dan khalwat) bagi kaum sufi, serta masih banyak lagi sedekah rahasia yang beliau lakukan.

Beliau sosok yang terkenal dengan kebaikan hati, kedermawanan, rendah hati, seorang sunni yang mencintai para ulama, cerdas, berani dan adil. Sehingga untuk mengenang jasa beliau, dibuatkanlah jalan "al-Malik al-Muzhaffar" di daerah al-Manial Mesir.

Beliau wafat di Erbil dan berwasiat untuk dimakamkan di Makkah, namun karena perjalanan yang sulit akhirnya beliau dimakamkan di pemakaman Sayyiduna Ali karramallahu wajhahu di Kufah.

Sumber: Siyar A`lam an-Nubala, al-Bidayah wa an-Nihayah, Wikipedia, sambutan Maulana Syekh Ali Jum`ah, dan beberapa masyayikh al-Azhar dalam berbagai perayaan Maulid.

Catatan: 1 dinar = 10 dirham. 1 dinar = 4.25 gram emas, silahkan hitung bagaimana kedermawanan beliau.

Disadur dari tulisan Hilma Rosyida Ahmad


Editor: Daniel Simatupang